- Pengertian Inovasi
Inovasi adalah
suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal
sebelumnya. Seseorang yang inovatif akan selalu berupaya melakukan perbaikan,
menyajikan sesuatu yang baru/unik yang berbeda dengan yang sudah ada.
Berdasarkan pengertian
tersebut, Robbins lebih memfokuskan pada tiga hal utama yaitu :
- Gagasan baru yaitu suatu olah pikir dalam mengamati suatu fenomena yang sedang terjadi, termasuk dalam bidang pendidikan, gagasan baru ini dapat berupa penemuan dari suatu gagasan pemikiran, Ide, sistem sampai pada kemungkinan gagasan yang mengkristal.
- Produk dan jasa yaitu hasil langkah lanjutan dari adanya gagasan baru yang ditindak lanjuti dengan berbagai aktivitas, kajian, penelitian dan percobaan sehingga melahirkan konsep yang lebih konkret dalam bentuk produk dan jasa yang siap dikembangkan dan dimplementasikan termasuk hasil inovasi dibidang pendidikan.
- Upaya perbaikan yaitu usaha sistematis untuk melakukan penyempurnaan dan melakukan perbaikan (improvement) yang terus menerus sehingga buah inovasi itu dapat dirasakan manfaatnya.
Pengertian Inovasi menurut para ahli :
- Pengertian Inovasi menurut Everett M. Rogers
Mendefisisikan bahwa
inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima
sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.
- Pengertian Inovasi menurut Stephen Robbins
Mendefinisikan, inovasi
sebagai suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki
suatu produk atau proses dan jasa.
- Pengertian Inovasi menurut Van de Ven, Andrew H
Inovasi adalah
pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dimana dalam
jangka waktu tertentu melakukan transaksi-transaksi dengan orang lain dalam
suatu tatanan organisasi.
- Pengertian Inovasi menurut Kuniyoshi Urabe
Inovasi bukan merupakan
kegiatan satu kali pukul (one time phenomenon),melainkan suatu proses yang
panjang dan kumulatif yang meliputi banyak proses pengambilan keputusan
di dan oleh organisasi dari mulai
penemuan gagasan sampai implementasinya di pasar.
- Pengertian Inovasi menurut UU No. 18 tahun 2002
Inovasi adalah kegiatan
penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan
penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru
untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk
atau proses produksi.
- Everett M. Rogers (1983)
Mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu ide,
gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal
yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.
- Stephen Robbins (1994)
Mendefinisikan, inovasi sebagai suatu
gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk
atau proses dan jasa.
Inovasi mempunyai 4
(empat) ciri yaitu :
- Memiliki kekhasan / khusus artinya suatu inovasi memiliki ciri yang khas dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan.
- Memiliki ciri atau unsur kebaruan, dalam arti suatu inovasi harus memiliki karakteristik sebagai sebuah karya dan buah pemikiran yang memiliki kadar Orsinalitas dan kebaruan.
- Program inovasi dilaksanakan melalui program yang terencana, dalam arti bahwa suatu inovasi dilakukan melalui suatu proses yang yang tidak tergesa-gesa, namun keg-inovasi dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan terlebih dahulu.
- Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan, program inovasi yang dilakukan harus memiliki arah yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.
Sifat Perubahan Dalam Inovasi Ada 6 Kelompok Yaitu :
1. Penggantian (substitution)
Misalnya : Inovasi dalam
penggantian jenis sekolah, penggantian bentuk perabotan, alat-alat atau sistem
ujian yang lama diganti dengan yang baru.
2. Perubahan (alternation)
Misalnya : Mengubah
tugas guru yang tadinya hanya bertugas mengajar, ditambah dengan tugas menjadi
guru pembimbing dan penyuluhan / mengubah kurikulum sekolah yang semula bercorak
teoretis akademis menjadi kurikulum dan mata pelajaran yang berorientasi
bernuansa keterampilan hidup praktis.
3. Penambahan (addition)
Misalnya : Adanya
pengenalan cara penyusunan dan analisis item tes objektif di kalangan guru
sekolah dasar dengan tidak mengganti atau mengubah cara-cara penilaian yang
sudah ada.
4. Penyusunan kembali (restructturing)
Misalnya : Upaya
menyusun kembali susunan peralatan, menyusun kembali komposisi serta ukuran dan
daya tampung kelas, menyusun kembali urutan mata-mata pelajaran / keseluruhan
sistem pengajaran, sistem kepangkatan, sistem pembinaan karier baik untuk
tenaga edukatif maupun tenaga administratif, teknisi, dalam upaya perkembangan
keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.
5. Penghapusan (elimination)
Contohnya : Upaya
menghapus mata-mata pelajaran tertentu seperti mata pelajaran menulis halus,
atau menghapus kebiasaan untuk senantiasa berpakaian seragam
6. Penguatan (reinforcement)
Misalnya : Upaya
peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan fasilitas sehingga berfungsi
secara optimal dalam permudahan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif
dan efisien.
- Program Inovasi dalam Antropologi Terapan
Semua kebudayaan senantiasa mengalami
perubahan. Sebagian dari prubahan – perubahan ini terjadi dengan cepat dan yang
lain agak lamban. Perubahan kebudayaan dapat terjadi secara tidak sengaja
seperti dalam suatu kelompok orang yang tertimpa bencana alam, misalnya
meletusnya gunung berapi, sehinnga mereka terpaksa pindah dan dengan cara
demikian mengubah banyak dari kebiasaan hidup mereka. Akan tetapi perubahan
kebudayaan dapat pula direncanakan. Misalnya program bantuan teknis dan
kesehatan dari badan – badan seperti UNESCO atau Peace Corps sering disertai
usaha untuk mengubah kebudayaan dengan suatu cara tertentu.
Dalam program inovasi inilah biasanya para
ahli antropologi terlibat dalam suatu perencanaan atau pelaksanaan perubahan
yang telah ditetapkan. Cabang antropologi terapan mengkhususkan diri pada
perubahan kebudayaan yang direncanakan dimana tujuan kerja pada antropologi
terapan ini adalah untuk memperkenalkan suatu perubahan tertentu pada cara
hidup suatu masyarakat tertentu pada umumnya berupa makanan baru, sistem
sanitasi, program kesehatan atau proses pertanian. Dalam antropologi, antropologi
yang diterpkan dapat disamakan kedudukannya dengan kedudukan ilmu teknik dalam
ilmu fisika. Sebagaimana agar efektif ilmu teknik tergantung pada pengetahuan
seorang sarjana fisika mengenai hukum – hukum alam, demikian pula antropologi
terapan tergantung pada pengetahuan seorang ahli mengenai hukum – hukum yang
menguasai aneka ragam kebudayaan dan perubahan kebudayaan dengan program
inovasi tersebut.
- Penerimaan program inovasi
Dalam kaitannya dengan perubahan berencana
terutama dalam program pembangunan yang umumnya menggunakan badan – badan
intenasional dan para ahli antropologi, jumlah ahli antropologi yang
dipekerjakan terus mengalami penurunan sehingga hanya sedikit ahli antropologi
terapan yang melakukan kegiatan dalam ahli antropologi terapan hal ini
disebabkan antara lain sebagai berikut :
1.
Adanya
anggapan dari administrator bahwa ahli antropologi bekerja lamban, memberikan
laporan yang terlalu teknis untuk dapat
digunakan dan terlalu bersimpati pada persoalan-persoalan masyarakat yang
menjadi objek penelitian.
2.
Banyaknya
kesulitan serta kekacauan yang sering dihadapi oleh ahli antropologi khususnya
dalam kaitannya dengan orang-orang yang berusaha mengadakan perubahan dalam
suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudaan sendiri.
3.
Keengganan
para ahli antropologi untuk ikut dalam perubahan yang direncananakan (program
inovasi) pengetahuan antropologi tentang wilayah-wilayah serta penduduknya
belum memadai untuk membenarkan penerapan antropologi.
4.
Banyak
ahli antropologi yang menolak untuk melaksanakan kegiatan antropologi terapan
karena merasa bahwa maksud para ahli antropologi atau perorangan lain yang
beriktikad baik untuk mencampuri kehidupan orang lain tidak dapat dibenarkan.
Persoalan lain yang ada dalam program inovasi
khususnya dalam berantropologi terapan adalah masalah pertimbangan etika.
Pertimbangan etika yang utama adalah apakah suatu proyek perubahan yang
direncanakan sungguh – sungguh akan bermanfaat bagi penduduk sasaran.
Hal2 yang perlu di perhatiakan seblum memeutuskan
melaksanakan program inovasi.
1. Menentukan
keuntungan umum dari perubanahn berencana.
2. Eika
dalam antropologi terapan.
3. Peneriaman
antropologi yang di terpkan
4. Penerapan,Perkembangan dan kelanjutan progaram
yang efektif.
Tahapan
Setelah kita ketahui model proses
keputusan inovasi yang menunjukkan urutan kelima tahap proses keputusan
inovasi, maka berikut ini akan dijelaskan setiap tahap secara terinci. (lihat
postingan sebelumnya tentang model proses keputusan inovasi disini)
1.
Tahap Pengetahuan
Proses keputusan inovasi dimulai
dengan tahap pengetahuan, yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya
suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Ada tiga tipe
pengetahuan dalam tahap pengenalan inovasi, yaitu: kesadaran/pengetahuan
mengenai adanya inovasi, pengetahuan “teknis” dan pengetahuan “prinsip”. Tipe
yang pertama yakni pengetahuan kesadaran akan adanya inovasi yang telah
dibicarakan di sebelumnya. Tipe yang kedua, meliputi informasi yang diperlukan
mengenai cara pemakaian atau penggunaan suatu informasi. Tipe pengetahuan yang
ketiga adalah berkenaan dengan prinsip-prinsip berfungsinya suatu informasi.
Pengertian menyadari dalam hal ini
bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi. Seseorang
menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi tentu dilakukan secara
aktif bukan secara pasif. Misalnya pada
acara siaran televisi disebutkan berbagai macam acara, salah satu menyebutkan
bahwa pada jam 19.30 akan ada siaran tentang metode baru cara mengajar
berhitung di Taman Kanak-kanak. Guru A yang mendengar dan melihat acara
tersebut kemudian sadar bahwa ada metode baru, serta membuka dirinya untuk
mengetahui apa dan bagaimana metode tersebut, maka pada diri Guru A tersebut
sudah mulai proses keputusan inovasi pada tahap pengetahuan. Sedangkan guru B
walaupun mendengar dan melihat acara TV, tidak ada keinginan untuk tahu, maka
belum terjadi proses keputusan inovasi.
Seseorang menyadari perlunya
mengetahui inovasi biasanya tentu berdasarkan pengamatannya tentang inovasi itu
sesuai dengan kebutuhannya, minatnya atau mungkin juga kepercayaannya. Seperti
contoh A tersebut, berarti ia ingin tahu metode baru berhitung karena ia
memerlukannya. Adanya inovasi menumbuhkan kebutuhan, karena kebetulan ia merasa
butuh. Tetapi mungkin juga terjadi bahwa karena seseorang butuh sesuatu maka
untuk memenuhinya diadakan inovasi. Dalam kenyataan di masyarakat hal yang
kedua ini jarang terjadi, karena banyak orang tidak tahu apa yang
diperlukannya. Apalagi dalam bidang pendidikan, yang dapat merasakan perlunya
ada perubahan biasanya orang yang ahli, sedang guru sendiri belum tentu mau
menerima perubahan atau inovasi yang sebenarnya diperlukan untuk mengefektifkan
pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana halnya menurut dokter, kita perlu makan
vitamin, tetapi kita tidak menginginkannya, dan sebaliknya sebenarnya kita
ingin sate tetapi menurut dokter justru sate membahayakan kita.
Setelah seseorang menyadari adanya
inovasi dan membuka dirinya untuk mengetahui inovasi, maka keaktifannya untuk
memenuhi kebutuhan ingin tahu tentang inovasi itu bukan hanya berlangsung pada
tahap pengetahuan saja tetapi juga pada tahap yang lain bahkan sampai tahap
konfirmasi masih ada keinginan untuk mengetahui aspek-aspek tertentu dari
inovasi.
Pada permulaannya ingin tahu tentang
apa, mengapa dan bagaimana cara bekerjanya. Pada tahap persuasi biasanya ingin
tahu lebih jauh lagi tentang bagaimana cara menggunakannya yang benar,
syarat-syarat yang diperlukan dan sebagainya. Makin komplek suatu inovasi maka
makin banyak dan komplek juga yang harus diketahui. Kemudian dapat berkembang
lebih mendalami lagi yang ingin diketahui yaitu bagaimana prinsip-prinsip
penggunaannya, dalam hal ini ada kaitannya dengan dasar teorinya. Makin jelas
dan makin dalam seseorang mengetahui inovasi akan makin kuat landasan untuk
menerima atau menolak suatu inovasi.
Berkaitan dengan pengetahuan tentang
inovasi, ada generalisasi (prinsip-prinsip umum) tentang orang yang lebih awal
mengetahui tentang inovasi :
(a)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi pendidikannya daripada yang akhir.
(b)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi status sosial ekonominya daripada
yang akhir
(c)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap media massa daripada
yang akhir.
(d)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap komunikasi interpersonal
daripada yang akhir.
(e)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak kontak dengan agen pembaharu
daripada yang akhir.
(f)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak berpartisipasi dalam sistem sosial
daripada yang akhir.
(g)
Orang yang
lebih awal tahu tentang inovasi lebih kosmopolitan daripada yang akhir.
Perlu diketahui juga bahwa tahu
tentang inovasi tidak sama dengan melaksanakan atau menerapkan inovasi. Banyak
orang yang tahu tetapi tidak melaksanakan, dengan berbagai kemungkinan
penyebabnya.
2.
Tahap Bujukan (Persuasi)
Pada tahap persuasi dari proses
keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi
terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama
bidang kognitif, maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif
atau perasaan. Seseorang tidak dapat menyenangi inovasi sebelum ia tahu lebih
dulu tentang inovasi.
Dalam tahap persuasi ini lebih
banyak keaktifan mental yang memegang peran. Seseorang akan berusaha mengetahui
lebih banyak tentang inovasi, dan menafsirkan informasi yang diterimanya. Pada
tahap ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat
pribadinya. Di sinilah peranan karakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses
keputusan inovasi (lihat Bagan 1. Model Tahap-Tahap Proses Keputusan Inovasi).
Dalam tahap persuasi ini juga sangat
penting peran kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di
masa datang. Perlu ada kemampuan untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam
pemikiran berdasarkan kondisi dan situasi yang ada. Untuk mempermudah proses
mental ini, perlu adanya gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaan
inovasi, jika mungkin sampai pada konsekuensi inovasi.
Hasil dari tahap persuasi yang utama
ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. Diharapkan
hasil tahap persuasi akan mengarahkan proses keputusan inovasi atau dengan kata
lain ada kecenderungan kesesuaian antara menyenangi inovasi dan menerapkan inovasi.
Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya antara sikap dan aktivitas masih ada
jarak. Orang menyenangi inovasi belum tentu ia menerapkan inovasi. Ada jarak
atau kesenjangan antara: pengetahuan, sikap dan penerapan (praktek). Misalnya
seorang guru tahu tentang metode diskusi, tahu cara menggunakannya, dan senang
seandainya menggunakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan, karena beberapa
faktor: tempat duduknya tidak memungkinkan, jumlah siswanya terlalu banyak, dan
takut bahan pelajarannya tidak akan dapat disajikan sesuai dengan batas waktu
yang ditentukan. Perlu ada bantuan pemecahan masalah.
Dalam penerapan inovasi ada pula
yang disebut preventive innovation
(inovasi preventif) yaitu seseorang menerapkan inovasi karena ingin terhindar
dari sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari. Misalnya keluarga
berencana, penggunaan helm, mengikuti asuransi, dan sebagainya.
3.
Tahap Keputusan
Tahap keputusan dari proses
keputusan inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah
untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti
sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan
menerapkan inovasi.
Sering terjadi seseorang akan
menerima inovasi setelah ia mencoba lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba
sebagian kecil lebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika
sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi tidak semua
inovasi dapat dicobadengan dipecah menjadi beberapa bagian. Inovasi yang dapat
dicoba bagian demi bagian akan lebih cepat diterima.
Dapat juga terjadi percobaan cukup
dilakukan sekelompok orang, dan yang lain cukup mempercayai dengan hasil
percobaan temannya. Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataannya pada setiap
tahap dalam proses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya
penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi pada
tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi, dan sebagainya.
Ada dua macam penolakan inovasi yaitu:
(a)
Penolakan aktif
artinya penolakan inovasi setelah melalui proses mempertimbangkan untuk
menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dahulu, tetapi keputusan
akhir menolak inovasi.
(b)
Penolakan
pasif artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali.
Dalam pelaksanaan difusi inovasi
antara: pengetahuan, persuasi dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan.
Satu dengan yang lain saling berkaiatan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu
dan dalam kondisi tertentu dapat terjadi urutan: pengetahuan-keputusan
inovasi-baru persuasi.
4.
Tahap Implementasi
Tahap implementasi dari proses
keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi. Dalam tahap
implementasi ini berlangsung keaktifan baik mental maupun perbuatan. Keputusan penerimaan
gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktek. Pada umumnya implementasi tentu
mengikuti hasil keputusan inovasi. Tetapi juga tejadi karena sesuatu hal sudah
memutuskan menerima inovasi tidak diikuti implementasi. Biasanya hal ini
terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia.
Kapan tahap implementasi berakhir?
Mungkin tahap ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, tergantung dari
keadaan inovasi itu sendiri. Tetapi biasanya suatu tanda bahwa taraf
implementasi inovasi berakhir jika penerapan inovasi itu sudah melembaga atau
sudah menjadi hal-hal yang bersifat rutin. Sudah tidak menerapkan hal yang baru
lagi.
Dalam tahap implementasi dapat
terjadi hal yang yang disebut Reinvention
(invensi kembali) yaitu penerapan inovasi dengan mengadakan perubahan atau
modifikasi. Jadi penerapan inovasi tetapi tidak sesuai dengan aslinya.
Reinvensi bukan berarti tentu hal yang tidak baik, tetapi terjadinya re-invensi
dapat merupakan kebijakan dalam pelaksanaan atau penerapan inovasi, dengan mengingat
kondisi dan situasi yang ada.
Hal-hal yang memungkinkan terjadinya
re-invensi antara lain: inovasi yang sangat komplek dan sukar dimengerti,
penerima inovasi kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen
pembaharu, inovasi yang memungkinkan berbagai kemungkinan aplikasi, apabila
inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, kebanggaan akan
inovasi yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu juga dapat menimbulkan
re-invensi.
5.
Tahap Konfirmasi
Dalam tahap konfirmasi ini seseorang
mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat
menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan
dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara
berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi, yang
berlangsung dalam waktu yang tak terbatas. Selama dalam tahap konfirmasi
seseorang berusaha menghindari terjadinya disonansi atau paling tidak berusaha
menguranginya.
Terjadinya perubahan tingkah laku
seseorang antara lain disebabkan karena terjadinya ketidakseimbangan internal.
Orang itu merasa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak sesuai atau tidak selaras
yang disebut disonansi, sehingga orang itu merasa tidak enak. Jika seseorang
merasa dalam dirinya terjadi disonansi, maka ia akan berusaha untuk
menghilangkannya atau paling tidak menguranginya dengan cara megubah
pengetahuaannya. Dalam hubungannya dengan difusi inovasi, usaha mengurangi
disonansi dapat terjadi :
(a)
Apabila
seseorang menyadari akan sesuatu kebutuhan dan berusaha mencari sesuatu untuk
memenuhi kebutuhan misalnya dengan mencari informasi tentang inovasi. Hal ini
terjadi pada tahap pengetahuan dalam proses keputusan inovasi.
(b)
Apabila
seseorang tahu tentang inovasi dan telah bersikap menyenangi inovasi tersebut,
tetapi belum menetapkan keputusan untuk menerima inovasi. Maka ia akan berusaha
untuk menerimanya, guna mengurangi adanya disonansi antara apa tang disenangi
dan diyakini dengan apa yang dilakukan. Hal ini terjadi pada tahap keputusan
inovasi, dan tahap implementasi dalam proses keputusan inovasi.
Setelah seseorang menetapkan
menerima dan menerapkan inovasi, kemudian diajak untuk menolaknya. Maka
disonansi ini dapat dikurangi dengan cara tidak melanjutkan penerimaan dan
penerapan inovasi (discontinuing). Ada kemungkinan lagi seseorang telah
menetapkan untuk menolak inovasi, kemudian diajak untuk menerimanya. Maka usaha
mengurangi disonansi dengan cara menerima inovasi (mengubah keputusan semula).
Perubahan ini terjadi (tidak meneruskan inovasi atau mengikuti inovasi
terlambat) pada tahap konfirmasi dari proses keputusan inovasi.
Ketiga cara mengurangi disonansi
tersebut, berkaitan dengan perubahan tingkah laku seseorang sehingga antara
sikap, perasaan, pikiran, perbuatan sangat erat hubungannya bahkan sukar
dipisahkan karena yang satu mempengaruhi yang lain. Sehingga dalam kenyataan
kadang-kadang sukar orang akan mengubah keputusan yang sudah terlanjur mapan
dan disenangi, walaupun secara rasional diketahui ada kelemahannya. Oleh karena
sering terjadi untuk menghidari timbulnya disonansi, maka ia hanya berusaha
mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. Dengan kata lain orang
itu melakukan seleksi informasi dalam tahap konfirmasi (selective exposure).
Diskontinuansi adalaah keputusan
seeorang untuk menghentikan penggunaan inovasi setelah sebelumnya mengadopsi.
Ada dua macam diskontinuansi :
1.
Keputusan
untuk menghentikan penggunaan suatu inovasi karena ia menerima ide baru yang
lebih baik menurut pandangannya.
2.
Keputusan
untuk mogok sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap hasil inovasi.
Untuk menghindari terjadinya drop
out dalam penerimaan dan implementasi inovasi (discontinue) peranan agen pembaharu sangat dominan. Tanpa ada
monitoring dan penguatan orang yang akan mudah terpengaruh pada informasi
negatif tentang inovasi.
Demikian uraian kelima tahap dari
proses keputusan inovasi opsional, yang terjadi pada individu atau unit
pengambil keputusan. Proses ini terutama terjadi dalam proses difusi inovasi
yang sasaran utamanya anggota sistem sosial secara pribadi (perorangan) bukan
sebagai kesatuan organisasi. Misalnya dalam lapangan pertanian. Namun demikian
dapat juga dipakai sebagai bahan pemikiran atau perbandingan dalam pelaksanaan
difusi inovasi pendidikan, karena pola proses terjadinya perubahan pada tiap
individu tetap sama. Misalnya untuk difusi inovasi pendidikan “penggunaan
pendekatan ketrampilan proses dalam mengajar”, maka sasaran utamanya juga
guru-guru. Hanya perbedaannya, kalau inovasi pertanian mungkin setiap petani
dapat membuat perbedaan keputusan ada
yang menerima ada yang menolak. Kalau guru tentu semuanya menerima dan mau
melaksanakan, karena terikat kedinasan, tetapi secara pribadi tetap dapat berlaku
tahap-tahap proses keputusan inovasi seperti model yang telah kita pelajari.
Program Inovasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar