Kamis, 19 Desember 2013



Yogyakarta adalah pusat kebudayaan Jawa selain Surakarta. Kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan penting diantara kebudayaan daerah lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa lampau dan saat ini. Dalam kebudayaan dan kehidupan Jawa terkandung nilai-nilai yang menjadi pedoman dan pegangan hidup dalam bermasayarakat. Pada saat ini dan di masa mendatang nilai-nilai tersebut mulai terdegradasi dalam pusaran dinamika budaya global. Bab ini membahas latarbelakang dan karakteristik kehidupan masyarakat Jawa yang dapat dijadikan landasan bagi berbagai studi sosial budaya masyarakat Jawa.
1. Sejarah Yogyakarta
Kronologi sejarah didasarkan pada catatan yang ditinggalkan atau ditemukan bukan berdasarkan mitos yang berkembang. Catatan sejarah awal Yogyakarta dan sekitarnya dijumpai dari prasasti-prasasti yang ditemukan pada bagian bangunan candi yang banyak ditemukan di sekitar Yogyakarta. Bangunan-bangunan candi ini juga merupakan bukti bahwa pada masa itu sekitar Yogyakarta telah menjadi pusat peradaban yang cukup maju.

Sejarah yang cukup panjang tercatat semenjak tahun 732 M dimana seorang raja telah membangun kerajaan Mataram kuno pada wilayah ini. Raja menurunkan dua dinasti besar yaitu Syailendra dan Sanjaya. Antara 750 – 850 M Dinasti Syailendra yang bercorak Budha berada pada tampuk kekuasaan yang banyak menghasilkan mahakarya seperti Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Lumbung dan lainnya. Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu berkuasa 856 – 930 M melanjutkan kejayaan Dinasti Sailendra menghasilkan mahakarya seperti Candi Prambanan, Kraton Ratu Boko, Candi Sambisari dan lainnya. Kedua dinasti dapat mewujudkan harmonisasi antara Budha dan Hindu yang tercermin dari corak candi yang saling berdampingan di sekitar Kecamatan Prambanan dan Kalasan saat ini (Subarno, 1994).
Pada masa sekitar 930 - 1000 M Mataram Kuno di Yogyakarta mulai memudar dan muncul kelanjutannya di Jawa Timur. Sebab-sebab hilangnya Mataram Kuno tidak dapat dipastikan, tetapi kombinasi dari berbagai peristiwa seperti letusan Gunungapi Merapi, gempabumi, wabah penyakit, maupun serbuan dari luar merupakan spekulasi yang sering ditawarkan sejarawan. Yang pasti adalah semua mahakarya pada masa itu, ditemukan sebagai puing-puing reruntuhan atau tertimbun tanah semenjak abad ke-18 sampai sekarang tanpa menyisakan kehidupan dan perilaku masyarakat berperadaban Hindu-Budha.
Andreastuti dkk. (2006) menyimpulkan mengenai rekonstruksi  runtuhnya Mataram Kuno hubungannya dengan Merapi sebagaimana uraian berikut ini.
”Dugaan Labberton (1922) dan Bemmelen (1949) bahwa suatu letusan pada tahun 1006 telah mengakibatkan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur telah dibantah oleh Boechari (1976) karena Kerajaan Mataram telah pindah ke Jawa Timur sejak tahun 928. Hal ini juga ditunjukkan dengan ditemukannya Prasasti Anjukladang yang dibuat oleh Mpu Sindok pada tahun 937, dan merupakan prasasti Kerajaan Mataram pertama di Jawa Timur. Pada prasasti Pucangan secara jelas disebutkan bahwa pralaya di kerajaan Mataram terjadi tahun 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram pada jaman pemerintahan Raja Darmawangsa yang memerintah dari tahun 991-1016 M. Penggantinya adalah Airlangga yang membuat Prasasti Pucangan pada tahun 1041 dan memerintah dari tahun 1019-1042. Dari penemuan endapan Selo tefra dan berdasarkan fakta sejarah bahwa Mpu Sindok telah memerintah pada 928 atau 929 sampai 948, maka kemungkinan letusan Merapi cukup besar waktu itu (VEI 3-4) yang terjadi antara tahun 765-911 telah mendorong penduduk Kerajaan Mataram untuk mulai pindah ke Jawa Timur. Endapan debris avalanche yang terjadi di Merapi mungkin dalam skala kecil antara tahun 870-970. Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada tahun 1006 tidak pernah terjadi. Dari fakta-fakta yang telah dibahas di atas, ada tiga kemungkinan penyebab pindahnya penduduk Kerajaan Mataran ke Jawa Timur pada waktu itu, yaitu akibat intensitas Merapi yang tinggi, atau untuk menghindari serangan dari kerajaan Sriwijaya, dan yang terakhir karena letak lokasi perdagangan yang strategis di daerah Delta Brantas.”
 Lebih jelas Mulyaningsih (1999) menegaskan bahwa letusan ke arah selatan terjadi tahun 1285 berupa surukan piroklastik sejauh 32,5 km dan aliran lahar. Tahun 1587-1600 letusan besar Merapi berupa surukan piroklastik sejauh 32 km dan aliran lahar sejauh 34,5 km. Tahun 1660 terjadi letusan Merapi diikuti letusan berikutnya yang membentuk kipas koluvial dengan ketebalan endapan sekitar 60-800 cm. Letusan-letusan tersebut mengubur sisa-sisa kerajaan Mataram Kuno yang sudah ditingalkan.
Catatan sejarah Yogyakarta muncul kembali dengan kehadiran Pemanahan (keturunan Majapahit) pada tahun 1570 dengan membangun Kerajaan Mataram Kotagede (Richfles, 2006). Secara geopolitik wilayah ini cenderung aman dari serbuan asing meskipun jauh dari pusat perekonomian yang berada di pesisir utara Jawa. Kerajaan selanjutnya dikokohkan oleh keturunannya yaitu Sutowijoyo yang bergelar Penembahan Senopati (1587), sebagai orang yang meletakkan kembali kekuasaan serta pusat budaya Jawa di Yogyakarta dan sekitarnya untuk masa-masa selanjutnya. Turunannya adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613) yang terkenal dalam serangan terhadap VOC di Batavia. Amangkurat I anak Hanyokrokusumo bertahta tahun 1648 yang bertabiat buruk dan kejam memindahkan pusat kerajaan di Pleret untuk meneguhkan kekuasaannya. Putranya Amangkurat II bekerjasama dengan Trunonjoyo pada tahun 1670 melakukan pemberontakan dan berhasil menyingkirkan Amangkurat I, kemudian memindahkan kerajaan ke Kartosuro. Geger Pacinan menjadikan kerajaan bergeser dari Kartosuro ke Surakarta. Perang suksesi pertama dan kedua merupakan dinamika politik di kerajaan Surakarta.
Perang suksesi ketiga di Surakarta dan campur tangan VOC menghsilkan perjanjian Gianti yang memunculkan kembali Yogyakarta sebagai kerajaan pecahan dari Surakarta. Pada 7 Oktober 1756 Kesultanan Yogyakarta didirikan oleh Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I. Lokasi kerajaan secara geopolitik terletak pada perlindungan pertahanan yang kuat yaitu benteng untuk pertahanan ring pertama, Sungai Winongo dan Code ring kedua, Sungai Bedog dan Gajahwong ring ketiga, serta Sungai Progo dan Opak ring ke empat (Anonim, 2005). Pada sisi utara Gunungapi Merapi sebagai simbol api dan sisi selatan Laut Selatan sebagai simbol air dengan pusat penyatuannya di kraton, merupakan simbolisasi hubungan kehidupan kosmik yang telah dijadikan sebagai kekuatan wibawa kerajaan. Pembangunan pertahanan bawah tanah Taman Sari diwujudkan sebagai refleksi terhadap dinamika politik di Kerajaan Surakarta yang tidak memiliki sistem pertahanan berlapis.
Tahun 1825-1830 seorang pangeran Yogyakarta yaitu Diponegoro melakukan perlawanan terhadap kesewenangan Belanda yang secara yuridis telah menjadi penguasa mutlak atas Jawa bahkan Nusantara. Perang Jawa ini merupakan pukulan berat bagi Belanda meskipun hanya berlangsung sebentar. Pasca perang Jawa, Belanda semakin memperkokoh kedudukannya untuk menguasai Nusantara. Masa 1900-an Yogyakarta memiliki peran yang tidak kecil dalam kebangkitan kesadaran akan konsepsi Indonesia yang dikenal sebagai Kebangkitan Nasional. Pernyataan Hamengkubuwono IX dan Pakualam VIII tentang Yogyakarta merupakan bagian dari Republik Indonesia pasca pernyataan proklamasi 1945, menjadikan Yogyakarta dipilih sebagai Ibukota perjuangan bagi Republik Indonesia antara tahun 1946-1949.
2. Sosial Budaya Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa yang dimaksud adalah mereka yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan yang masih menjalankan nilai-nilai budaya Jawa baik kebiasaan perilaku maupun seremonialnya. Saat ini etnis Jawa telah menyebar hampir disegala penjuru Indonesia. Ditinjau dari geografis masa lampau, kehidupan masyarakat Jawa ada di wilayah administrasi propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur saat ini. Masyarakat terbagi dalam Jawa pesisir utara dan pedalaman. Berdasar administrasi saat ini masyarakat Jawa pesisir meliputi eks karesidenan Pekalongan, Semarang, Tuban, dan Surabaya, sedangkan masyarakat Jawa pedalaman meliputi eks karesidenan Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, serta Madiun, Kediri, dan Malang, ketiga terakhir dikenal sebagai wilayah Mataraman. Wilayah Tapalkuda merupakan wilayah yang pengaruh Jawanya berkombinasi dengan pengaruh Madura.
Dalam masyarakat Jawa dikenal dua kaidah dasar kehidupan yaitu prinsip kerukunan dan prinsip hormat (Suseno, 2001). Kedua prinsip merupakan kerangka normatif yang menentukan bentuk kongkrit semua interaksi. Rukun berarti berada dalam keadaan selaras, tenang dan tentram, tanpa perselisihan dan pertentangan. Rukun merupakan keadaan yang harus dipertahankan dalam semua hubungan sosial seperti rumah tangga, dusun, desa, dan lainnya. Tujuan rukun adalah keselarasan sosial. Sementara prinsip hormat merupakan cara seseorang dalam membawa diri selalu harus menunjukkan sikap menghargai terhadap orang lain sesuai derajat dan kedudukannya. Prinsip hormat didasarkan pada pandangan bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis yang merupakan kesatuan selaras sesuai tatakrama sosial.
Kesadaran akan kedudukan sosial merupakan hal yang penting dalam prinsip rukun dan hormat masyarakat Jawa. Interaksi sosial yang berlangsung harus menyadari dengan siapa interaksi tersebut sedang berlangsung. Dalam masyarakat Jawa dikenal adanya stratifikasi masyarakat sebagai suatu warisan sistem kerajaan dan sistem feodal penjajah masa lampau. Dua golongan stratifikasi masyarakat yang saling berhadapan tersebut meliputi priyayi-wong lumprah, wong gedhe-wong cilik, pinisepuh-kawulo mudho, santri-abangan, dan sedulur-wong liyo (Endraswara, 2003). Stratifikasi ini menuntut suatu komunikasi yang berbeda dalam berinteraksi mengimplementasikan prinsip rukun dan hormat.
Sebagai suatu sistem kebudayaan, dalam kehidupan masyarakat Jawa juga memiliki suatu pengalaman religius yang khas. Secara umum pengalaman religius khas masyarakat Jawa adalah (Suseno, 2001) : (1) kesatuan masyarakat, alam dunia, dan alam adikodrati sebagai sesuatu yang tidak terpecah belah, (2) sangkan paraning dumadi, dan (3) takdir. Sementara paham sinkritisme, yaitu  sikap mendua yang dapat diperankan oleh orang Jawa, memiliki sisi positif seperti tingginya kemampuan adaptasi masayarakat Jawa dimanapun berada, meskipun sisi negatif seperti ketidakterusterangan sangat mewarnai dalam kehidupan.
Kesatuan masyarakat, alam dunia, dan alam adikodrati terungkap dalam kepercayaan bahwa semua alam empiris berkaitan persis dengan peristiwa di alam metaempiris. Manusia dalam berperilaku tidak boleh gegabah sehingga bertabrakan dengan yang ada di alam metaempiris. Satu-satunya cara menghindari tabrakan adalah dengan belajar dari pengalaman dan dari tradisi yang ada. Tetapi bagaimana cara mengenali alam adikodrati yang tidak terlihat ?  Paham mengenal ’’tempat yang tepat’’ berdasarkan dua tanda yang tidak bisa salah merupakan cara yang harus ditempuh. Tanda pertama bersifat sosial yaitu keselarasan sosial, dan tanda kedua bersifat psikologis yaitu ketenangan batin, ketiadaan rasa kaget, dan kebebasan dari ketegangan emosional. Tanda-tanda tersebut dapat dipahami apabila prinsip rukun dan hormat ditegakkan.
Sangkan paraning dumadi merupakan paham asal usul dan apa tujuan manusia di dunia. Paham ini mendorong manusia berhadapan dengan hakekat yang bermakna dalam kehidupannya yaitu penyatuan diri dengan Tuhannya. Manusia harus menyadari bahwa mereka berasal dari Tuhan, mengemban misi di dunia dari Tuhan, dan kelak akan mempertanggungjawabkan misi di dunia kepada Tuhan. Oleh sebab itu pancaran Ilahiah dari Tuhan harus menjadi pedoman utama dalam menjalankan misi di muka bumi. Akan tetapi pada akhirnya takdir Tuhanlah yang lebih menentukan tanpa suatu keberdayaan manusia. Manusia hanya bisa melakukan apa yang sesuai dengan ”tempatnya”, sehingga dalam kehidupan harus selalu berusaha untuk bisa memahami ”tempatnya”.
3. Sumberdaya Ekonomi Yogyakarta Saat ini
Dari masa ke masa sektor agraris merupakan sumber perekonomian utama pada masyarakat Jawa pedalaman termasuk di sekitar Yogyakarta. Produksi bahan pangan dan palawija merupakan komoditas paling dominan. Akan tetapi pada masa depan ada tiga faktor yang akan membentuk pertanian di Yogyakarta, khususnya di wilayah lowland, yaitu meningkatnya tekanan penduduk, berkurang dan menyempitnya lahan pertanian, serta pengaruh nilai-nilai global dalam kegiatan ekonomi perdesaan. Nilai positip tekanan penduduk bagi pertanian adalah bertambahnya permintaan terhadap komoditas pertanian. Jika peningkatan jumlah penduduk diiringi perbaikan ekonominya, permintaan terhadap komoditas pertanian menjadi lebih beragam dan berkualitas. Mengecilnya lahan pertanian akan membawa pertanian yang bercorak urban farming, yaitu budidaya secara intensif pada lahan sempit untuk menghasilkan produk berkualitas dengan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diperlukan masyarakat. Struktur produksi yang esensial pada situasi seperti ini adalah pada modal, managerial, dan keusahawanan (entrepreneurship).
Pada saat ini sektor jasa, perdagangan, industri kecil, dan kerajinan juga menjadi andalan Yogyakarta. Peran sebagai daerah wisata kedua setelah Bali dan peran sebagai kota pendidikan menjadikan Yogyakarta memiliki keunggulan dibandingkan wilayah di Indonesia lainnya. Wilayah yang terletak di pedalaman dan jauh dari pesisir utara ini berperan sebagai wilayah tujuan, bukan sebagai wilayah transit. Sebagai wilayah tujuan, Yogyakarta sangat dinamis dalam pergerakan manusia, barang, dan modal. Kondisi ini diantaranya dapat dilihat dari perubahan kepemilikan lahan permukiman yang banyak dikuasai oleh orang luar Yogyakarta serta hubungan transportasi udara dengan Jakarta yang mencapai lebih dari 20 penerbangan dalam sehari.
Perkembangan sektor perekonomian non agraris pada propinsi dengan luas wilayah 3.186 m2 dan berpenduduk 3.311.812 jiwa pada tahun 2000 (Anonim, 2005) ini, yang bertopang pada pariwisata dan pendidikan, akan berkoneksi dengan beragam bidang kehidupan. Kedua peran tersebut mendorong tumbuhnya industri kreatif oleh masyarakat yang berdampak besar pada sektor perekonomian. Berbagai industri kecil dan rumahan seperti kerajinan souvenir, makanan ringan, pakaian maupun jasa seperti, berbagai paket wisata, lembaga pendidikan, lembaga konsultan, berkembang pesat di Yogyakarta untuk melayani berbagai wilayah di Indonesia bahkan mancanegara. Potensi pariwisata Yogyakarta yang berperan dalam penggerak perekonomian dapat dikelompokkan ke dalam wisata budaya, atraksi wisata, dan wisata alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar