KECEWA
TAK BERUJUNG NESTAPA
By: nuryati
Masa
lalu yang kelam telah aku kubur dalam-dalam, aku sangat bersyukur pada Allah
SWT yang memberikan yang terbaik kepadaku, nama ku Mentari Noviana Hapsari
tetapi teman-teman main ku kerap memanggilku bebek, maupun enta. Tari maupun
Simen. Aku anak tunggal bapak ku bekerja diBalai pertanian, dan ibu bekerja
disalah satu perusahaan swasta, mereka
sangat sibuk. Disekolah aku sangat dikenal oleh guru-guru, bukan karena aku
berprestasi tetapi karena aku sering melanggar peraturan sekolah dan juga
sering bolos, hari ini aku dipanggil oleh guru BK, untuk menemui beliau yang
ternyata aku diberi surat pangilan orang tua karena alfa ku sudah hampir lima
puluh, hampir beberapa jam aku berada diruang BK yang bagiku seperti neraka,
aku bisa keluar dari runagn itu sekitar hampir waktu dzhur.
“ Hai broooo, lama kali kau diruangan sialan
itu” tanya temanku Tobing sambil memelukku “Guru itu lagi suka ngomong hari ini, Bing” jawab ku singkat saja. “kenapa muka
mu di tekuk begitu Tar? Tak biasanya kamu begitu? ”tanya gilang, temen cowok ku
yang paling ganteng di kelompok gengku.
“aku
dapat surat panggilan orang tua, orang tua ku besok pagi harus menemui bu
Septi” suara ku lesu.
“hemmmmm,
masalah gitu aja repot, itu masalah kecil” jawab Dimas yang kemudian duduk di
sebelah ku sambil merangkul ku.
“kecil
bagaimana?” jawab ku kesal. “kalau
sampai orang tua ku tau aku sering bolos sekolah, bisa-bisa aku di
gantung sama bapak ku” lanjutku
“surat
itu jangan kamu kasihkan ke orang tua mu, dan kamu besok beri alasan ke BuSepti
kalau orang tuamu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, beresss kan?”
Akhirnya akupun mengikuti saran Dimas, surat
itu aku buang saat perjalanan pulang.
Aku
sangat jarang sekali bersua dengan orang tuaku, Ibuku sering pulang malam, begitu pula dengan ayah ku, aku
dapat bersua dengan kedua orang tua ku hanya saat sarapan pagi. Merekapun tak
pernah menanyakan bagaimana sekolahku, bagaimana keadaanku, mereka terlalu
sibuk dengan pekerjaan masing-masing tak pernah punya waktu untuk keluarga
bahkan di hari liburpun terkadang mereka juga masih dikejar-kejar dengan urusan
pekerjaan.
Hari
ini adalah hari panggilan orang tua ku
untuk datang kesekolah memenuhi bu Septi, tetapi sesuai dengan saran Dimas aku
harus mencari alasan kenapa orang tua ku
tidak datang memenuhi panggilan, pada hal surat undangan itu sudah aku
sobek-sobek saat perjalanan pulang
kemarin. Waktu pun, saat bel istirahat berbunyi aku segera menuju ruang BK.“Assalammu’alaikum,
selamat pagi bu.” Sambil menunduk aku berdiri di ruang BK.“wa’alaikumsalam,
ayok masuk” jawab bu Septi sambil menyudahi membaca bukunya.
Akupun
kemudian masuk keruangan itu, dan kemudian duduk dikursi paling pojok, “
mana ibu atau bapak mu Tari kok kamu
datang sendiria?
“maaf bu orang tuaku tidak bisa hadir memenuhi undangan ibu,
bapak ku ada tugas ke Semarang dan ibuku
pergi ke Solo ” aku menjawab pelan dan
terbata-bata.
Aku
selalu berdoa dalam hati ku semoga buSepti tidak curiga kalau aku bohong.
Mungkin kalau surat undangan itu aku kasihkan keIbuku pasti beliau mau datang
tapi aku sangat-sangat tidak menginginkan hal itu terjadi, bisa-bisa aku
dimarahi habis-habisan bahkan mungkin
ibu dan bapak ku tak segan-segan menghukumku jika mereka mengetahui yang
sebenarnya begitu pula dengan pihak sekolah tak segan-segan mereka mengeluarkanku jika tahu aktifitasku
diluar sana.
“kamu
tidak bohong? Jangan-jangan surat panggilan itu tidak kamu kasihkan keorang tua
mu ” bu septi semakin memojokanku.
“tidak
bu” aku tetap menunduk, tak berani rasanya aku menatap wajah bu Septi. Dada ku
semakin berdetak kencang,
“baik, ini surat kasihkan ke orang tuamu, dan
besok selama tiga minggu kamu tidak usah berangkat kesekolah ” bu septi
menyodorkan sebuah amplop warna putih dihadapanku.
“maksud
ibu?” aku semakin bingung, ini semua diluar dugaanku.
“ya,
kamu ibu secorsing selama tiga minggu” bu Septi kembali meneruskan membacanya,
yang awalnyaa terhenti karena kedatanganku.
“tapi
buu..”jawab ku memelas.
“tapi
apa? Masih kurang tiga minggu? Sudah sana kamu kembali kekelas.” Bu Septi tak
mau mendengarkan alasanku lagi. Aku kembali kekelas untuk mengikuti pelajaran.
Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan selama tiga minggu. Sesampainya
aku didepa kelas ternyata guru pelajaran Antropologiku sudah datang, akupun
mengeluarkan buku paket lusuh dan buku
tulis satu-satunya yang ada didalam tas ku dan sebatang bolpen usang, buku itu bukan berarti sering
aku buka dan dibaca melainkan buku itu selalu berada didalam tas, tertimbun
barang-barang diluar alat sekolah.
“
tari coba baca kembali, catatanmu yang kemaren materi tentang Dialek” pak yoki
tiba-tiba menunjukku.
“maaf pak, buku saya ketinggalan tadi waktu berangkat buru-buru” jawabku dengan Pdnya.
“pinjam
punya teman disamping mu”ucap pak yoki lagi.
“sama
pak, saya juga ketinggalan bukunya” jawab Dimas yang duduk berada disampingku..
Saat pelajaran berjalan aku dan Dimas sama sekali tidak pernah mencata, kita
berdua sibuk ngobrol sendiri ataupun tidur. Hingga bel tanda pulang sekolah
berbunyi aku masih seperti ynag kemarin, tidur didalam kelas. Hari ini aku
memilih untuk pulang langsung keruamah, badan ini terasa sangat letih
sekali. “hari ini tidak berangkat les
non?” tanya pak pujo sembari menyambut kedatanganku
“tidak
pak, kebetulan guru les ku sedang keluar kota.”jawabku bohong pada pak pujo.semua
orang mengira kalau aku selama ini
mengikuti les , padahal yang sebenarnya aku pergi bersama teman-teman jalan ku
untuk ngamen maupun hanya sekedar tongkrongan biasa. Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan
selama aku diskorsing. Tiba-tiba aku terkagetkan denga suara HP ku “kringgg....,”
satu pesan masuk terlihat dilayar ponselku. Akupun segera membuka pesan itu dan
ternyata pesan itu dari Komet temen rege ku, dia memberitahu ku kalau besok ada
pertunjukan musik rege, setidaknya dengan hal itu aku bisa merifresh otakku.
Udara
pagi yang dingin menusuk kulitku, enggan rasanya mata ini untuk dibuka. Goresan
sinar mata hari mulai tampak diufuk timur, sang surya belum mengeluarkan keperkasaannya
suara desingan mesin mulai terdengar bersautan menandakan aktifitas kota
dimulai kembali. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan segera bergegas
menuju kamar mandi, air yang dingin tak ku hiraukan secepat kilat mandi ku pagi
ini.
“
Tariiii, “ teriak ibu menghentikan lariku saat menuju pintu depan. “iya bu, aku
buru-buru pagi ini absen sarapan.” Aku
melanjutkan lari ku dan segera keluar
rumah menemui Komet yang sudah
menungguku di gank samping rumah ku. Aku dan teman-temanpun segera beranggakat,
sebelum aku berangakat aku menyempatkan
diri untuk berganti pakaian rege. Sesampai
di lapangan kecamatan suasana disana ternyata sudah ramai bahkan ketika aku
sampai Chaky rasta, salah satu group
band rege sedang menyanyikan lagu pertamanya yang berjudul “one love”, akupun segera menuju depan panggung dengan
teman-teman ku, dan berjoget sambil mengibarkan bendera rasta
dan duduk diatas panggul Janet. Pukul 15:30 acarapun selesai dengan
ditutup lagu” hitam putih” milik cozy republik. Setelah itu aku tidak langsung pulang, kami sepakat
untuk jalan- jalan memutar alun-alun kota, hingga kami memutuskan untuk berhenti disalah satu emperan toko yang cukup
sepi, kami disitu berpesta minuman keras
samapi kami semua mabok dan taksadarkan diri
hingga kami tak sadar kalau kami ternyata sudah berada dikantor polisi. “
Mana kartu identitas kalian!!” gretak
pak polisi yang duduk di depanku yang sedikit menyadarkan aku dan teman-teman
dari mabok. Teman-teman ku semua tertunduk tidak ada satupun diantara mereka
yang menjawab. Akhirnya aku pun akhirnya memberikan kartu pelajarku, hanya aku
yang memberikan kartu identitas., teman-teman ku tak ada salah satupun yang
memilii kartu identitas.
Akhirnya
teman-temanku pun dimasukan kedalam sel, sedangkan aku tetap diluar dan masih
duduk di kursi yang sama. Saat itu aku sangat takut, tamat sudah riwayatku saat
itu. Pasti orang tua ku tak segan- segan
menghukumku dan bahkan munggin lebih
dari itu. Tetapi akhirnya aku tak ikut ditahan bersama teman-temanku, setelah
itu akaupun pulang bersama kedua orang tuaku, di perjalan aku tetap bungkam tak sepatah kata pun aku lontakan. Hingga sampai dirumah aku tetap diam
“plakkkkk.......”
sebuah tamparan hebat mendarat dipipiku. Aku masih tetapi diam, hanya sebutir
air mata terjatuh kepipiku yang merah itu.
“dasar
kamu anak tidak tau diri, kurang apa lagi bapak sama ibu,” gretak bapakku
“kurang apalagi!!!!” gretak bapak lebih keras,” sudah-sudah pak, kasihan tari”
ibu tiba- datang dan memeluku sambil menangis.
“ibu
gak usah membela anak kurang ajar ini” suara bapak sedikit mereda, “tapi
kasihan Tari pak, bagaimanapun dia adalah anak kita”. Ibu selalu membelaku
“terserah
kamu bu...” bapak meninggalkan aku dan ibu. Akupun masuk kerumah, “maafin Tari ya bu” suara ku lirih
sambil memeluk ibu. Sejak kejadian itu aku menajadi sadar bahawa sebenarnya
kedua orang tuaku perhatian dan sayang pada ku, bagaimanapun kondisinya
keluarga tenyata adalah segala-galanya. Aku sangat menyesal dengan kelakuan ku
itu dalam hati aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akupun mengakui
semua apa yang aku lakukan selama ini. Tetapi akibat aku masuk kantor polisi,
akupun dinyatakan dikeluarkan dari sekolah selain itu pihak sekolah ternyata
sudah tahu tentang semua kebusukanku. Nasi telah menjadi bubur, untuk tetap
melanjutkan studi ku akhirnya aku dimasukan kesebuah sekolah pondok pesantren
di salah satu desa di jawa timur, hingga akhirnya aku lulus dan mendapat
beasiswa keluar negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar