Kamis, 31 Oktober 2013

keluarga adalah segalanya



KECEWA TAK BERUJUNG NESTAPA
By: nuryati
Masa lalu yang kelam telah aku kubur dalam-dalam, aku sangat bersyukur pada Allah SWT yang memberikan yang terbaik kepadaku, nama ku Mentari Noviana Hapsari tetapi teman-teman main ku kerap memanggilku bebek, maupun enta. Tari maupun Simen. Aku anak tunggal bapak ku bekerja diBalai pertanian, dan ibu bekerja disalah satu perusahaan  swasta, mereka sangat sibuk. Disekolah aku sangat dikenal oleh guru-guru, bukan karena aku berprestasi tetapi karena aku sering melanggar peraturan sekolah dan juga sering bolos, hari ini aku dipanggil oleh guru BK, untuk menemui beliau yang ternyata aku diberi surat pangilan orang tua karena alfa ku sudah hampir lima puluh, hampir beberapa jam aku berada diruang BK yang bagiku seperti neraka, aku bisa keluar dari runagn itu sekitar hampir waktu dzhur.
 “ Hai broooo, lama kali kau diruangan sialan itu” tanya temanku Tobing sambil memelukku “Guru itu lagi suka ngomong hari  ini, Bing” jawab ku singkat saja. “kenapa muka mu di tekuk begitu Tar? Tak biasanya kamu begitu? ”tanya gilang, temen cowok ku yang paling ganteng di kelompok gengku.
“aku dapat surat panggilan orang tua, orang tua ku besok pagi harus menemui bu Septi” suara ku lesu.
“hemmmmm, masalah gitu aja repot, itu masalah kecil” jawab Dimas yang kemudian duduk di sebelah ku sambil merangkul ku.
“kecil bagaimana?” jawab ku kesal. “kalau  sampai orang tua ku tau aku sering bolos sekolah, bisa-bisa aku di gantung sama bapak ku”  lanjutku
“surat itu jangan kamu kasihkan ke orang tua mu, dan kamu besok beri alasan ke BuSepti kalau orang tuamu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, beresss kan?”
 Akhirnya akupun mengikuti saran Dimas, surat itu aku buang saat perjalanan pulang.
Aku sangat jarang sekali bersua dengan orang tuaku, Ibuku sering  pulang malam, begitu pula dengan ayah ku, aku dapat bersua dengan kedua orang tua ku hanya saat sarapan pagi. Merekapun tak pernah menanyakan bagaimana sekolahku, bagaimana keadaanku, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing tak pernah punya waktu untuk keluarga bahkan di hari liburpun terkadang mereka juga masih dikejar-kejar dengan urusan pekerjaan.
Hari ini adalah hari panggilan  orang tua ku untuk datang kesekolah memenuhi bu Septi, tetapi sesuai dengan saran Dimas aku harus mencari alasan  kenapa orang tua ku tidak datang memenuhi panggilan, pada hal surat undangan itu sudah aku sobek-sobek saat  perjalanan pulang kemarin. Waktu pun, saat bel istirahat berbunyi aku segera menuju ruang BK.“Assalammu’alaikum, selamat pagi bu.” Sambil menunduk aku berdiri di ruang BK.“wa’alaikumsalam, ayok masuk” jawab bu Septi sambil menyudahi membaca bukunya.
Akupun kemudian masuk keruangan itu, dan kemudian duduk dikursi paling pojok, “ mana  ibu atau bapak mu Tari kok kamu datang sendiria?
“maaf   bu orang  tuaku tidak bisa hadir memenuhi undangan ibu, bapak ku ada tugas ke Semarang dan  ibuku  pergi ke Solo ” aku menjawab pelan dan terbata-bata.
Aku selalu berdoa dalam hati ku semoga buSepti tidak curiga kalau aku bohong. Mungkin kalau surat undangan itu aku kasihkan keIbuku pasti beliau mau datang tapi aku sangat-sangat tidak menginginkan hal itu terjadi, bisa-bisa aku dimarahi  habis-habisan bahkan mungkin ibu dan bapak ku tak segan-segan menghukumku jika mereka mengetahui yang sebenarnya begitu pula dengan pihak sekolah tak segan-segan  mereka mengeluarkanku jika tahu aktifitasku diluar sana.
“kamu tidak bohong? Jangan-jangan surat panggilan itu tidak kamu kasihkan keorang tua mu ” bu septi semakin memojokanku.
“tidak bu” aku tetap menunduk, tak berani rasanya aku menatap wajah bu Septi. Dada ku semakin berdetak kencang,
 “baik, ini surat kasihkan ke orang tuamu, dan besok selama tiga minggu kamu tidak usah berangkat kesekolah ” bu septi menyodorkan sebuah amplop warna putih dihadapanku.
“maksud ibu?” aku semakin bingung, ini semua diluar dugaanku.
“ya, kamu ibu secorsing selama tiga minggu” bu Septi kembali meneruskan membacanya, yang awalnyaa terhenti karena kedatanganku.
“tapi buu..”jawab ku memelas.
“tapi apa? Masih kurang tiga minggu? Sudah sana kamu kembali kekelas.” Bu Septi tak mau mendengarkan alasanku lagi. Aku kembali kekelas untuk mengikuti pelajaran. Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan selama tiga minggu. Sesampainya aku didepa kelas ternyata guru pelajaran Antropologiku sudah datang, akupun mengeluarkan buku paket  lusuh dan buku tulis satu-satunya yang ada didalam tas ku dan sebatang  bolpen usang, buku itu bukan berarti sering aku buka dan dibaca melainkan buku itu selalu berada didalam tas, tertimbun barang-barang diluar alat sekolah.
“ tari coba baca kembali, catatanmu yang kemaren materi tentang Dialek” pak yoki tiba-tiba menunjukku.
“maaf  pak, buku saya  ketinggalan tadi waktu berangkat buru-buru”  jawabku dengan Pdnya.
“pinjam punya teman disamping mu”ucap pak yoki lagi.
“sama pak, saya juga ketinggalan bukunya” jawab Dimas yang duduk berada disampingku.. Saat pelajaran berjalan aku dan Dimas sama sekali tidak pernah mencata, kita berdua sibuk ngobrol sendiri ataupun tidur. Hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi aku masih seperti ynag kemarin, tidur didalam kelas. Hari ini aku memilih untuk pulang langsung keruamah, badan ini terasa sangat letih sekali.   “hari ini tidak berangkat les non?” tanya pak pujo sembari menyambut kedatanganku
“tidak pak, kebetulan guru les ku sedang keluar kota.”jawabku bohong pada pak pujo.semua orang mengira kalau aku selama  ini mengikuti les , padahal yang sebenarnya aku pergi bersama teman-teman jalan ku untuk ngamen  maupun hanya sekedar  tongkrongan biasa.  Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan selama aku diskorsing. Tiba-tiba aku terkagetkan denga suara HP ku “kringgg....,” satu pesan masuk terlihat dilayar ponselku. Akupun segera membuka pesan itu dan ternyata pesan itu dari Komet temen rege ku, dia memberitahu ku kalau besok ada pertunjukan musik rege, setidaknya dengan hal itu aku bisa merifresh otakku.
Udara pagi yang dingin menusuk kulitku, enggan rasanya mata ini untuk dibuka. Goresan sinar mata hari mulai tampak diufuk timur, sang surya belum mengeluarkan keperkasaannya suara desingan mesin mulai terdengar bersautan menandakan aktifitas kota dimulai kembali. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan segera bergegas menuju kamar mandi, air yang dingin tak ku hiraukan secepat kilat mandi ku pagi ini.
“ Tariiii, “ teriak ibu menghentikan lariku saat menuju pintu depan. “iya bu, aku buru-buru pagi ini absen sarapan.”  Aku melanjutkan  lari ku dan segera keluar rumah menemui  Komet yang sudah menungguku di gank samping rumah ku. Aku dan teman-temanpun segera beranggakat, sebelum  aku berangakat aku menyempatkan diri untuk berganti pakaian  rege. Sesampai di lapangan kecamatan suasana disana ternyata sudah ramai bahkan ketika aku sampai Chaky rasta,  salah satu group band rege sedang menyanyikan lagu pertamanya yang berjudul “one love”, akupun  segera menuju depan panggung dengan teman-teman ku, dan berjoget sambil mengibarkan bendera  rasta  dan duduk diatas panggul Janet. Pukul 15:30 acarapun selesai dengan ditutup lagu” hitam putih” milik cozy republik. Setelah  itu aku tidak langsung pulang, kami sepakat untuk jalan- jalan memutar alun-alun kota, hingga kami memutuskan untuk  berhenti disalah satu emperan toko yang cukup sepi,  kami disitu berpesta minuman keras samapi kami semua mabok dan taksadarkan diri  hingga kami tak sadar kalau kami ternyata sudah berada dikantor polisi. “ Mana kartu identitas kalian!!”  gretak pak polisi yang duduk di depanku yang sedikit menyadarkan aku dan teman-teman dari mabok. Teman-teman ku semua tertunduk tidak ada satupun diantara mereka yang menjawab. Akhirnya aku pun akhirnya memberikan kartu pelajarku, hanya aku yang memberikan kartu identitas., teman-teman ku tak ada salah satupun yang memilii kartu identitas.
Akhirnya teman-temanku pun dimasukan kedalam sel, sedangkan aku tetap diluar dan masih duduk di kursi yang sama. Saat itu aku sangat takut, tamat sudah riwayatku saat itu. Pasti orang  tua ku tak segan- segan menghukumku dan bahkan munggin  lebih dari itu. Tetapi akhirnya aku tak ikut ditahan bersama teman-temanku, setelah itu akaupun pulang bersama kedua orang tuaku, di perjalan aku tetap bungkam  tak sepatah kata pun aku lontakan. Hingga  sampai dirumah  aku tetap diam
“plakkkkk.......” sebuah tamparan hebat mendarat dipipiku. Aku masih tetapi diam, hanya sebutir air mata terjatuh kepipiku yang merah itu.
“dasar kamu anak tidak tau diri, kurang apa lagi bapak sama ibu,” gretak bapakku “kurang apalagi!!!!” gretak bapak lebih keras,” sudah-sudah pak, kasihan tari” ibu tiba- datang dan memeluku sambil menangis.
“ibu gak usah membela anak kurang ajar ini” suara bapak sedikit mereda, “tapi kasihan Tari pak, bagaimanapun dia adalah anak kita”. Ibu selalu membelaku
“terserah kamu bu...” bapak meninggalkan aku dan ibu. Akupun masuk  kerumah, “maafin Tari ya bu” suara ku lirih sambil memeluk ibu. Sejak kejadian itu aku menajadi sadar bahawa sebenarnya kedua orang tuaku perhatian dan sayang pada ku, bagaimanapun kondisinya keluarga tenyata adalah segala-galanya. Aku sangat menyesal dengan kelakuan ku itu dalam hati aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akupun mengakui semua apa yang aku lakukan selama ini. Tetapi akibat aku masuk kantor polisi, akupun dinyatakan dikeluarkan dari sekolah selain itu pihak sekolah ternyata sudah tahu tentang semua kebusukanku. Nasi telah menjadi bubur, untuk tetap melanjutkan studi ku akhirnya aku dimasukan kesebuah sekolah pondok pesantren di salah satu desa di jawa timur, hingga akhirnya aku lulus dan mendapat beasiswa keluar negeri.


cerpen hewan peliharaan.



Tokek sang peramal cuaca

Matahari masih belum sepenuhnya melihatkan keperkasaannya, hanya bercak sinarnya yang terlihat dibalik bukit yang gelap di pojok timur laut, kokok ayam jantan telah lama bersahutan menandakan  akan dimulainya  hari yang indah. Dilereng perbukitan ini hanya beberapa rumah penduduk yang berdiri kokoh  dibawah rimbunnya dedaunan yang hijau, hutan menjadi sumber kehidupan bagi penduduk, semua tersedia disana. Dibelakang perkampungan terdapat lahan kosong dan yang terlihat hanya beberapa nisan yang saling berhadap-hadapan dan ditengahnya terdapat pohon beringin yang rimbun memayunginya. Didalam bilik terlihat seonggoh tubuh kecil masih terbungkus sehelai selimut dan di belakang terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyalakan api di tungkunya. Hanya ada dua orang yang ada didalam rumah bambu itu dan seekor tokek didalam kandang yang digantung di balai rumah.
“Roni, sudah siang nak ayook bangun” suara  ibu roni terdengar dari belakang yang masih  tetap sibuk dengan aktifitas tungkunya. Sedangkan yang ada didalam bilik masih saja terbalut oleh selimut, yang terdengar hanya suara geretan ranjang yang terdengar didalam bilik pertanda kalau Roni menanggap tanggapan ibunya. Pagi ini memang udara sangat dingin, Sisa-sisa air hujan masih membasahi jalan setapak  yang menuju hutan didepan rumah roni.
“biii,biii Roni sudah bangun?” Suara teman-teman roni terdengar didepan halaman rumah.
“belum Do, sana bangunkan. Tadi bibi sudah mencoba membangunkan tetapi masih belum bangun juga.” Ibu Roni masih tetap sibuk didapur, karena rumah Roni hanya terdapat satu ruangan yaitu ruang tidur Roni dan ibunya sedangkan sisanya untuk dapur sekaligus ruang tamu jadi tak heran jika suara Dodo dari halaman depan terdengar samapai ke belakang. Dengan sebuah bulu ayam yang dioles-oleskan ke muka Roni akhirnya Dodo dapat membangunkan Roni.
“ayok cepat bangun, hari sudah siang nanti kita tak mendapat kayu bakar banyak lohhh” Dodo naik keranjang bambu tempat tidur Roni.
“iya , ini juga sudah bangun” Roni beranjak dari ranjangnya sambil mengucak mata.
“nanti sebelum pergi kehutan sarapan dulu ya nak” ibu Roni  mempersiapkan sarapan untuk putranya.
“iya bu” suara Roni masaih lemas, “sekalian Dodo ya bii” dengan berlari Dodo menghampiri ibu Roni ke dapur.
“iya, nanti kalian berdua harus sarapan dulu sebelum berangkat,” sambil membungkus bekal untuk Ron,  ibu Roni  masih tetap sibuk dengan  urusan dapurnya.
Setelah Roni dan Dodo selesai sarapan merekapun siap untuk berangkat kehutan untuk mencari kayu bakar dihutan dan kemudian dijual kekota tak lupa juga Roni menggendong kranjang yang berisi tokek yang cukup besar sebagai teman mereka dihutan, tokek itu oleh roni diberi nama “kondang”, kondang adalah seekor tokek yang selalu setia mengikuti Roni kemanapun ia keluar dari rumah. Roni dan Dodo adalah anak kecil yang berumur sekitar tujuh sampai delapan tahun, mereka hidup dilereng perbukitan yang masih jarang penduduknya jadi tak heran jika kehidupan mereka masih sangat tergantung pada alam.
“Ron, kita mau cari kayu bakar ketempat yang kemarin, atau pindah ketempat lain?” tanya Dodo sambil berjalan menelusuri hutan.
“kita pindah tempat saja, tempat kemarin sudah habis kelihatannya” Roni berjalan didepan Dodo  karena mereka melewati jalan yang sempit, sehingga mereka tidak bisa untuk berjalan berjejer.
“terus kita mau cari kemana?” Dodo terus bertanya.
“kita menyebrang ke perbukitan sebelah, jalannya lumayan menanjak tapi disana banyak kayu bakarnya” Roni mencoba menanggapai pertanyaan Dodo dan tetapi berjalan.
Dengan sebilah parang yang menyelip disamping pinggang, mereka terus menelusuru dinding tebing di perbukitan itu,  meskipun mereka masih berumur belia tetapi kerasnya hidup mereka  membuat mereka lebih bertindak dewasa. Dengan susah payah akhirnya Roni dan Dodo akhirnya dapat menuju kebukit yang akan mereka cari kayu  bakarnya. Tokek “kondang” masih saja terdiam dalam kranjang  yang ada dipunggung Roni, dia masih sibuk dengan serangga yang ada dihadapannya.
“nanti kita setengah hari saja ya Do, takut kalau menjelang sore biasanya  hujan. Nanti kita kesulitan untuk turunnya” sambil  memotong- motong kayu yang ada di hadapannya.
“iya Ron, aku juga takut kalau kita nanti pulang terlalu malam.” Jawab Dodo diatas pohon sambil mengayun-ayunkan parangnya kedahan pohon yang sudah kering.
Memang jarak antara bukit tempat Roni dan Dodo mencari kayu bakar cukup jauh dari rumahnya, sekitar 3 sampai 4 Km, selain itu juga jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk dilalu jika hari gelap, sangat lah berbahaya.
Matahari mulai telihat sedikit bergeser, panasnya pun mulai terasa menggigit kulit, Ronipun menghentikan pekerjaannya dan berteduh dibwah pohon yang rindang, sementara Dodo masih saja asyik bergelantungan diatas pohon dengan  parangnya.
“Do, ayolah turun, kita istirahat dulu” suara Roni sedikit terengah-engah dengan keringat yang becucuran dilehernya.
“nanti Ron, tanggung belum habis” Dodo masih ayik dengan pekerjaannya diatas pohon.
“hati-hati loh, pohonnya sudah lapuk” Roni terheran-heran melihat tingkah Dodo diatas pohon yang hanya berpegangan dengan satu tanggan dan satu kaki berayun-ayun.
“tenang aku sudah ahli Ron dalam hal  panjat memanjat” dengan kepala bergeleng-geleng.
Roni hanya menggelengkan kepalnya saja melihat tingkah laku temannya, Ronipun tetap istirahat dan membuka bekalnya dia menikmati dengan semilir angin yang menyapu halus mukanya, tatkala roni sedang asik menikmati hidangannya tiba-tiba dia tergangu dengan suara benda jatuh kesemak-semak.
“krosaakk....aaaaaaahh.” suara tubuh Dodo terjatuh kesemak-semak dibarengi dengan suara jeritannya. Seketika itu Roni pun langsung berlari menghampiri tubuh Dodo, dan ternyata Dodo terjatuh bersamaan dengan batang pohon yang dipanjatnya.
“Do.....dodo” Roni menggerak-gerakkan tubuh Dodo yang pingsan tetapi Dodo masih belum sadar. Roni sangat bingung dengan keadaam temannya, dengan susah payah ahirnya roni dapat memindahkan tubuh Dodo ketempat yang lebih teduh dan lapang. Tak banyak yang Roni bisa lakukan hanya terus menggerak-gerakan tubuh Dodo, untung lah  selang beberapa lama akhirnya Dodo dapat tersadarkan.
“Do, kamu gak papa?” tanya Roni begitu cemas.
“aku gak papa kok Ron, badan ku sedikit perih saja karena tergesek oleh semak belukar.” Jawab Dodo dengan suara yang masih lemas.
“syukurlah kalau begitu, minumlah dulu Do agar tubuhmu kembali segar” Roni sambil memberikann  minum untuk Dodo, dia tetap memegang-megang tubuh Dodo. Setelah tubuh Dodo kembali pulih, merekapun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Ketika mereka sedang membereskan peralatan mereka tiba-tiba mereka tertegun dengan suara tokek dan sepontan merekapun menghitung bunyi tokek tersebut dengan sesekali mengucapkan  kata “hujan” dan sesekali mengucap kata” kemarau”. Kali ini tenyata bunyi tokek itu terhenti pada hitungan hujan.
“Do, malam ini akan hujan kita harus cepat-cepat pulang sebelum petang tiba” ucap Roni sedikit cemas.
“iya Ron, lihat awan sepertinya akan berganti mendung” sambil menunjuk kepojokan langit dodo menaggapi kegelisahan Roni.
Karena dalam kepercayaan mereka Tokek adalah hewan yang dapat meramalkan cuaca kerena itu juga Roni sangat menyayangi “kondang” tokek kesayangannya yang selalu menemani Dia kemanapun Dia pergi, pernah sesekali ada orang kota yang sedang mencari tokek yang katanya untuk obat dan Dia berani membayar berapapun yang Roni minta, tetapi Roni tetap mempertahankan “kondang” sebagai hewan peliharaannya dan sekaligus sebagai temannya.
Dengan menelusuri  lereng-lereng perbukitan dan menebus hutan, Roni dan Dodo  tetap berjalan begegas, meskipun ia juga masih disusahkan dengan kayu bakar bawaannya tetapi mereka masih bisa bejalan dengan cepat. Ditengah perjalanan tokek “kondang” lagi-lagi berbunyi kembali dan juga berhenti pada kata “hujan”.
Matahari hampir-hampir sudah satu satu jengkal lagi akan benar-benar menghilang, suara guruhpun mulai terdengar bersautan, Roni dan Dodo makin gelisah.
“Ron, kalau kita kemalaman dihutan dan kehujanan gimana?” tanya Dodo yang mulai takut.
“ tenang,,kita tidak akan kehujanan dan kemalaman dihutan” Roni mencoba menenangkan Dodo. Kali ini Roni memilih jalan pintas yang lebih cepat untuk sampai di rumah meskipun jalannya masih banyak semak belukar karena jarang dilalui orang.
 Tepat ketika matahari benar-benar tenggelam, Roni dan Dodo  akhirnya dapat sampai dirumah dan kemudian rintik hujan pun mulai sedikit-sedikit turun, terdengar berbunyi jatuh keatas rumbia rumah Roni yang kemudian makin lama makin besar dengan disusul suara guntur yang saling bersautan. Ibu Roni sangat mencemaskan Roni dan Dodo kerena takut kalau-kalau Roni dan Dodo kemalaman dan kehujanan dihutan.
“memangnya  kalian mencari kayu bakar kemana, kok sampai larut pulangnya” tanya ibu Roni pada kedua bocah kecil itu.
“kita mencari kayu bakar keatas bukit Bi”jawab Dodo sambil meminum teh hangat buatan ibu Roni.
“ jauh banget, memangnya hutan bawah sudah tidak ada” ibu Roni makin penasaran.
“dibawah kayu bakarnya sudah habis bu,” jawab Roni dengan suara yang kurang jelas karena terhalangi makanan yang ada dimulutnya.
Ketika mereka sedang asik bercerita, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara “kondang’ yang tiba-tiba berbunyi mengentikan pembicaraan yang sedang hangat ditengah rinti hujan.
“Hujannya sudah turun Kondang......”Dengan komapaknya mereka bertiga mengatakan kata-kata yang sama tanpa diaba-abai.
“hahahahahahahaha.,,.,.,.,”mereka tertawa ditengah rinti hujan dibelantara yang gelap.