Rabu, 04 September 2013
tradisi perang pandan(mekare-kare) Bali aga tenganan
ABSTRAK
Tradisi
merupakan suatu hal yang dilakukan secara turun temurun (dari nenek moyang )
yang masih di jalankan di masyarakat.Pada
umumnya tradisi biasanya menyangkut tentang
unsur keagamaan sepertiupacara
keagamaan,maupun ritual keagamaan lain.Seperti halnya upacara yang ada di
masyarakat Bali age desa tenganan.dimana desa tenganan merupakan salah satu
desa adat yang memiliki salah satu tradisi yang cukup unik yang dikenal dengan
perang pandan,dimana perang panadan merupakan perang yang dilakukan sebagai
penghormatan kepada dewa indra.
Yang menarik
dari desa tenganan adalah meraka tidak seperti halnya masyarakat hindu
lainnya,yang mana masyarakat hindu
umunya diBali adalah menganut paham tri murti,Dewa wisnu,brahma dan
siwa sebagai dewa tertinggi,sedangkan di
desa tenganan sendiri mereka mengagap dewa indralah sebagai dewa
teringgi,mengapa seperti itu?karena masyarakat desa tenganan seperti yang sudah
dijelaskan diatas bahwa mereka menganut agama hindu indra yang mana dewa indra
dalam paham mereka adalah sebagai dewa
kemakmuran,dewa sebagai symbol pertiwi
dan dewa segala dewa.
Perang pandan
didesa adat tenganan ini sebagai penghormatan terhadap dewa indra dan juga
terhadap leluhur mereka. Tidak jauh berbeda dengan perang lainnya yaitu bagaimana caranya untuk
biasa memenangkan suatu
peperangan,tetapi hal yang menarik dari mekare-kare pandan adalah walupun dalam
peperangan itu yang berperang untuk memenangkan speperangan itu tetapi dalam
perang ini tidak ada unsure kompetisi,tetapi mereka lebih condong pada upacara
tradisi.
Dalam membahas
tradisi kusus ini(perang pandan)saya akan menggunakan metode kuantitatif,sebuah
metode yang focus terhadap asumsi
berdasarkan fakta yang mengkaji tentang fenomena dan situasi social adapaun
yang saya bahas nanti adalah meliputi
latar belakang,proses, fungsi dan juga kaitan perang panadan dengan
pariwisata di Bali masyarakat desa tenganan.Metode dalam pengumpulan data dalam
penelitian kali ini adalah data primer dan data sekunder.Pengumpulan dengan
data sekunder adalah bersumber darai internet dan sumber buku,sedangkan untuk
data primer adalah wawancara,dokumentasi.
Kata kunci:
Perang pandan
DAFTAR
ISI
ABSTRAK
Kata
Pengantar …………………………………………….Vii
Pembahasan
………………………………………………….1
Desa
tenganan……………………………………………
·
Perang pandan……………………………………
·
Eksisitensi perang
pandan dalam era global……
·
Penutup ……………………………………………
·
Daftar
pustaka………………………………………
A.Kata
Pengantar
Alhamdulillah
segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat hidayah serta
karunianya kepada kita semua.Sehingga
pada saya dapat menyelesaikan tugas penelitian saya,yang saya berikan judul”
tetesan dara “Mekare-kare”sebagai
penghormatan kepada sang Dewa” dengan tepat waktu.
Tulisan ini
disusun berdasarkan penelitian saya disebuah desa adat bali yang nantinya saya
rangkum dengan landasan teori secara antropologi.Dimana hasil tulisan ini dapat
dijadikan sumber materi ataupun sebagai reverensi untuk mempelajari ke tingkat
yang lebih tiinggi.
Tidak lupa kami
ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman sekalian yang telah
membantu menyelesaikan tulisan ini . Saya menyadari bahwa tulisan ini masih
banyak memiliki kesalahan ,oleh karena itu saya akan menerima kritik dan saran
demi kesempurnaan hasil tulisan ini . Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita
semua.
Semarang
29 juni 2013
Nuryati
3401412026
B.
Desa Tenganan
Desa tenganan
merupakan salah satu desa adat yang berada di Bali timur,kabupaten karangasem Desa Tenganan, yang terletak di 70
km timur Denpasar Bali lebih kurang 70 menit menggunakan kendaraan bermotor,
desa ini masuk salah satu desa tua di Bali, desa ini disebut Bali Aga. Lokasi desa
ini dikelilingi bukit, sementara bentuk desa sendiri seperti layak nya sebuah
benteng yang hanya mempunyai empat pintu masuk dengan sistim penjagaan,sehingga
lebih memudahkan untuk tahu siapa saja yang datang dan pergi dari desa
tersebut.Desa tenganan sendiri terdiri dari
tiga banjar yang membujur dari timur kebarat.
Yakni Banjar Kauh di sebelah barat serta Banjar Tengah dan
Banjar Pande di sebelah timur. Masing-masing bangunan dipisahkan oleh awangan
atau jalan utama dan dua rurung (gang).
Matapencaharian mayoritas masyarakat desa tenganan adalah
sebagai petani.yang mana luas keseluruhan dari desa tenganan adalah seluas
917,200 Ha dengan jumlah penduduk 688 dengan artian bahwa setiap kepala
keluarga mendapatkan lahan seluas 1 ½ Ha,sedangkan bagi mereka yang tidak
memeiliki lahan maka oleh desa adat tersebut akan diberi pekarangan.
Seperti masyarakat bali pada umumnya masyarakat desa
tenganan adalah beragama hindu.Tetapi ada hal yang menarik dari desa tenganan
itu sendiri yang berbeda dari masyarakat Bali,yang nanti akan dibahas lebih
mendalam padatulisan selanjutnya.Berkaitan dengan upacara keagamaan mayarakat
desatenganan (Bali) terdapat lima macam upacara keagamaan yang dikenal dengan pancayadnya,yaitu sebagai berikut.(nugroho trisnu brata,antropologi
SMA,2007).
1.
Manusia yadnya,yaitu meliputi upacara-upacara siklus hidup dari masa kanak-kanak
kedewasa.
2.
Pitra yadnya,yaitu upacara yang ditunjukan kepada
roh-roh leluhur,upacara kematian dan upacara penyucian roh leluhur.
3.
Dewa yadnya,yang berkenaan dengan
upacara-upacara dikuil-kuil umum dan keluarga.
4.
Resi yadnya,yang berkenaan dengan upacara
pentahbisan pendeta.
5.
Buta yadnya, upacara yang ditunjukan kepada buta
dank ala yang sebagai roh-roh pengganggu.
Secara garis besar Bali
kebudayaan mendapat dua pengaruh berdasarkan pegaruh kebudayaan jawa –Hindu
pada masa kerajaan majapahit yaitu sebagai berikut :
Bali majapahit (wong majapahit) dan masyarakat
bali-aga(nugroho trisnu brata 135),dimana di sini masyarat desa tenganan
pegeringsingan adalah termasuk dari masyarakat bali aga(bali murni)yang mana
tidak mendapat pengaruh dari kerajaan majapahit,Bahkan boleh dikatakan bahwa masyarakat
Bali aga dalam artian masyarakat desa tenganan adalah masyarakat Bali
asli,terdapat beberapa perbedaan diantaranya adalah tidak mengenal kasta dan
yang menjadi identitas dari desa tenganan pegeringsingan yaitu perangan panadan
yang mana nanti akan dibahas lebih mendalam tentang perang pandan.
.
C.Perang Pandan.
Tradisi perang
pandan atau yang sering disebut mekare-kare di Desa Tenganan dilakukan oleh
para pemuda dengan memakai kostum/kain adat tenganan, bertelanjang dada
bersenjatakan seikat daun pandan berduri dan perisai untuk melindungi diri.
Tradisi ini berlangsung setiap tahun sekitar bulan Juni, biasanya selama 2
hari. perang pandan diawali dengan ritual upacara mengelilingi desa
untuk memohon keselamatan, setelah itu perang pandan dimulai dan kemudian
ditutup persembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan menghaturkan tari
Rejang.
Tradisi ini dilakukan
sebagai penghormatan kepada dewa indra yang mana dalam sejarah tenganan
mengisahkan bahwa desa tenganan merupakan hadiah Setelah kemenangan Dewa Indra atas
raja raksasa Maya Denawa,maka Dewa bermaksud membuat persembahan dengan
menyembelih seekor kuda bernama Onceswara.
Namun kuda itu kemudian melarikan diri karena menolak untuk
dikorbankan.
Dewa Indra kemudian memerintahkan sekelompok pasukan untuk mencarinya hingga ke Karangasem. Sayangnya, pasukan Peneges ini hanya berhasil menemukannya dalam keadaan sudah menjadi bangkai. Dewa kemudian memberi hadiah berupa lahan dengan batasan seluas bau bangkai itu masih tercium. Dengan cerdik, para anggota pasukan kemudian memotong bangkai dan berlari ke segala arah untuk memperluas wilayah yang bisa dibaui sampai akhirnya mereka diberi peringatan.
Dewa Indra kemudian memerintahkan sekelompok pasukan untuk mencarinya hingga ke Karangasem. Sayangnya, pasukan Peneges ini hanya berhasil menemukannya dalam keadaan sudah menjadi bangkai. Dewa kemudian memberi hadiah berupa lahan dengan batasan seluas bau bangkai itu masih tercium. Dengan cerdik, para anggota pasukan kemudian memotong bangkai dan berlari ke segala arah untuk memperluas wilayah yang bisa dibaui sampai akhirnya mereka diberi peringatan.
Jadilah kini wilayah yang secara administratif masuk
Kecamatan Manggis, Karangasem, dan berjarak sekitar 70 kilometer dari Denpasar
itu menjadi Desa Tenganan.
D.Eksistensi perang pandan dalam
kehidupan masyarakat desa tenganan dalam era global.
Seperti yang jelaskan di atas bahwa perang panadan merupakan
perang yang ditunjukan sebagai suatu penghormatan kepada dewa indra,yang telah
memberikanwilayang kepada wong paneges
sebagai hadiah terhadap prajurit yang telah berhasil menemukan kuda onceswara
walaupun kuda tersebut dalam keadaan mati.
Bagaimana peran perang pandan dalam kehidupan masyarakat
desa tenganan yang mana desa tenganan adalah desa yang termasuk desa adat
wisata.”desa tenganan diminta oleh pemerintah untuk mempertahankan kearifan
localnya”(I putu suwarjana),apakah perang panadan memang benar-benar suatu
ritual yang sacral yang merupakan suatu penghormatan kepada sang dewa ataukah
hanya sebagai daya tarik wisatawan saja?
Terbukti bahwa kepala adat desa tenganan dalam diskusinya
saat penerimaan tamu,menyebutkan bahwa desa tenganan memang diminta oleh
pemeritah untuk mempertahankan kebudayaannya yang mana dengan mereka
mempertahankan kebudayaannya tentu akan membawa keuntungan tersendiri bagai
mereka.
Seperti dengan adanya pementasan perang pandan tentu akan
menraik para wisatawan baik domestic maupun mancanNegara untuk datang kesana
yang tentu dengna hal itu akan menambah pendapatan desa tersebut( adanya unsur
komersil),apakah upacara adat yang bernilai”sacral”dapat dibeli dengan ribuan
uang.
Apabila kita kritisi melalu waktu pelakasanan upacara perang
pandan yang mana Desa Tenganan
memliki kalender yang berbeda dari kalender yang dipakai di Bali pada umumnya.
Dalam kalender mereka, pada tahun pertama, 1 tahun sama dengan 12 bulan, 1
bulan sama dengan 30 hari. Namun pada tahun ketiga, ada 13 bulan.
Pada tahun ketiga inilah dirayakan berbagai
macam kegiatan. Pada bulan pertama, dimeriahkan oleh pasangan muda mudi.
Pertama akan dihadirkan tari-tarian, yaitu tari rejang sebagai pembuka dan
abuang setelahnya. Acara terbanyak ada pada bulan ke 5 dengan puncaknya yaitu
perang pandan. pada bulan juni-juli dimana dalam bulan-bulan
itu adalah libur sekolah,tentu waktu sangatlah bertepatan dimana banyak
orang-oranng yang berlibur dan desa tenganan mengadakan sebuah upacara yang
tergolong unik,yang tentu akan menimbulkan ketertarikan para wisatawan untuk
datang kesana.
Dari hal itu menjadikan berbagai pertanyaan timbul,dimana
unsure kesakralan sebuah ritual keagamaan,apakah perang pandan benar-benar
upacara adat yang benar-benar sebagai suatu ritual penghormatan kepada
Dewa,atau bahkan hanya sekedar ritual komersil?
E.penutup
Keterpaksaan dalam menjalankan ritual keagamaan akan
terkesan atau terlihat janggal,karena hal itu tidak berasal dari sikap emosi
dalam keagamaan.
Dari
uraian diatas penulis mengucapkan terimakasih banayak dan apabila terdapat
banayak kesalahan penulis mengucapkan permohonan maaf yang
sebesar-besarnya.Semoga bermanfaat.
F.Daftar pustaka
Trisnu
brata nugroho. 2007 .antropologi SMA
kelas XII. Jakarta.esis
I
puthu swarjana.,informan
Wikipedia.com
cerpen
TUMBAL
Oleh
: nuryati
Langit
terlihat begitu cerah, terlihat burung- burung mulai kembali kesarangnya, mega
merah diufuk barat mengiringi sang surya kembali keperaduannya. Gemercik air
sungai terdengar dari pemukiman penduduk, menandakan kalau sungai makin hari
makin dangkal tetapi tidak semua badan
sungai, bagian hulu sungai justru sebaliknya air terlihat sangat tenang dari
kejahuan hanya berputar-putar saja jika diterpa angin, itulah bagian sungai
yang telah dikeruk diambil batu dan pasir dengan alat berat milik proyek orang
kota, hanya tinggal bagian hilir saja yang sekarang masih dangkal dan mungkin
setelah bagian hulu sudah dikeruk semua pastilah akan pindah kebagian hilir.
Musim ke tiga memang baru saja berlangsung
jadi tidaklah mungkin sungai ini akan banjir yang mana jika itu terjadi akan
menghalangi proyek penambangan itu.
Suara dentuman batu yang dilempar keatas bak truk terlihat begitu keras, sungai
yang dulunya sepi kini terlihat seperti terminal. Puluhan truk berbaris
berjejer menunggu giliran baknya untuk di isi, fenomena ini terjadi hampir
setiap hari dari pagi setelah azan subuh sampai menjelang sore, badan sungai
sekarang menjadi rusak begitu juga dengan ekosistem airnya banyak ikan-ikan
setres sehingga mengakibatkan sulit untuk dipancing maupun dijala. Tak hanya
itu hutan bambu milik penduduk yang ada dibibir sungai ikut dirusak sehingga
mengakibatkan longsor, hal ini sangat di
takutkan oleh penduduk jika tiba musim penghujan dan air sungai meluap pastilah
rumah penduduk juga akan ikut terbawa arus karena hutan bambu yang berfungsi
untuk menahan tanah yang ada di atas sungai telah rusak.
Hari ini tepat empat
puluh hari kematian Andi, bocah berumur sepuluh tahun yang meninggal akibat terpeleset dibibir sungai saat
menemani ibunya yang sedang mencuci baju
di pancuran. Andi terpeleset jatuh
kesungai dibagian yang habis di keruk
yang dalamnya kurang lebih lima meter, sebelum adanya proyek penambangan milik
orang kota itu ada, memang hampir setiap tahun pasti ada korban tetapi yang
menjadi korban adalah orang-orang tamu di desa itu menurut mitos penduduk
setempat bahwa sungai itu dijaga oleh ular berkepala manusia dan berambut
panjang yang mereka sebut kumandang,
jika akan ada orang yang menjadi korban pasti malam sebelum kejadian akan
terdengar kumandang itu menangis
itulah mitos yang diyakini penduduk bertahun-tahun.
“Kang sebenarnya aku
sudah muak dengan ulah mereka para orang kota yang telah merusak sungai kita”
ucap kang Parmin pada suatu siang dibawah pohon dipinggir sungai.
“ya tapi gimana lagi,
kita ini wong cilik , tidak bisa
melakukan apa-apa” kang Gito menanggapi kekesalan kang Parmin.
“lihat sungai menjadi
rusak, ikan –ikan pun menjadi susah ditangkap, ditambah lagi tanah banyak yang
longsor, mameng orang kota itu bajingan semua”
sambil menunjuk ketempat penambangan itu kang Parmin kelihatan sangat geram.
“sudah kau hitung
berapa yang sudah menjadi korban disungai itu” ucapan kang Parmin tiba-tiba
mereda, yang awalnya sangat keras seketika berubah menjadi lirih ketika
pembicaraan dialihkan masalah korban.
“terahir Andi, anaknya
pak Bambang” dia korban ke enam” jawab kang Gito datar saja.
“biasanya korban hanyut
akan terhenti jika sudah berjumlah tuju”kang Parmin membisikan
pembicaraannya di depan teling kang Gito
persis
“Huss,.,.,. kamu ini
kang, pamali bicara seperti itu. Masih mau warga kita yang menjadi korban?”
Sebenarnya tak
hanya kang Parmin saja yang geram dengan ulah orang kota itu, hampir semua
warga juga mengalami hal yang sama tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain
mengumpat dibelakang.
Matahari berdiri
tepat di atas kepala, terik hari ini
memang terasa begitu membakar kulit, suara dentuman batu sejenak terhenti
rupanya mereka juga bisa beristirahat dan mungkin akan memulainya kembali
ketika matahari tergelincir.
“bu nanti sore mandi di
pancuran ya” rengek Eko pada ibunya
siang itu.
“tak usah lah ko, mandi
di belik sawah kan bisa, lebih dekat
juga” ibu eko mencoba mengalihkan ke inginan Eko untuk mandi di pancuran.
“sebenarnya ibu juga
takut mandi di pancuran, jalannya terjal takut terpeleset” tambah ibu Eko lagi.
“pokoknya nanti sore
mandi di pancuran, kalau ibu tak mau
menemani biar Eko berangkat sendiri” Eko terus bersikeras untuk mandi di pancuran. Sebenarnya dia sebelumnya
tidak pernah mandi di pancuran, dia
dan ibunya jika ingin mandi pasti dibelik
tempat pemandian yang ada di tengah sawah depan rumahnya, karena Eko
bersikeras untuk mandi di pancuran akhirnya
ibunyapun mengalah menuruti keinginan Eko untuk mandi di pancuran.
Hingga sore tiba, Eko
tak sabar untuk segera menuju pancuran yang letaknya berada di bibir sungai
persis tanpa menunggu ibunya yang sedang mempersiapkan alat mandi. Sampai di pancuran Eko segera melepaskan baju bukan untuk mandi di pancuran tetapi dia justru menuju sungai yang sedang di keruk
batunya itu, di bagian hilir sungai
terlihat memang sangat dangkal tetapi arusnya sangat deras. Tiba- tiba ketika
Eko akan melangkahkan kakinya ke sebuah batu di terpeleset dan terpental
ketengah sungai yang deras dengan kepala
menghantam batu sungai, seketika itupun dia langsung terseret arus yang
sangat deras. Ibu Eko yag melihat anaknya hanyut langsung menjerit.
“tolonggg, tolonggg,
anak saya hanyutt” jeritan ibu Eko menghentikan kerja orang-orang kota dan kang
Gito yang sedang mencangkul sawahnya di sebrang sungai seketikapun
langsung berlari dan menceburkan diri
kesungai, orang-orang kota yang berdiri
hanya melongo saja. Setelah mungkin sekitar sepuluh menit kang Gito menelusuri
badan hilir sungai akhirnya Eko pun dapat di temukan , tetapi naas Eko dapat
ditemukan dengan sudah tidak benafas lagi, banyak luka –luka ditubuhnya akibat
benturan batu selain itu tubunya pun biru akibat sudah banyak menelan air.
Ibu Eko seketika menangis
diatas tubuh anaknya, tak kuasa melihat
kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan itu, berita hanyutnya Eko di sungai
dekat penambangan itu tersebar ketelinga semua penduduk, dengan kurang lebih
dua puluh orang penduduk mengeroyok para penambang, tak peduli ada yang hanya
mengenakan celana dalam saja mereka mengeroyok para penambang hingga mereka
lari terbirit-birit menjauh dari amukan penduduk.
Eko adalah korban
ketujuh dalam satu tahun ini, dan menurut desas desus penduduk ternyata
penambangan itu menginginkan tujuh tumbal untuk kejayaan proyeknya, tentang
kebenaran itu tak ada satu orang pun yang tahu.
Langganan:
Komentar (Atom)